Motif Tunggu Tubang
Tunggu Tubang
Tunggu tubang juga sebagai alat legitimasi untuk kontrol kekuasaan gender oleh laki-laki di masyarakat, hal ini terbukti dari penempatan perempuan “atas nama adat” tampaknya memiliki kekuatan.Maka, komunitas Semende dikenal menggunakan sisterm matrilineal. Bagaimanapun, tunggu tubang menguatkan posisi laki-laki yang memposisikan dirinya sebagai meraje, yang berhak untuk mengontrol keberlanjutan tunggu tubang.
Tunggu Tubang mempunyai larangan-larangan yang harus di jauhi, larangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Menolak keluarga yang datang kerumahnya.
2. Berperilaku kasar terhadap keluarga.
3. Menjual harta keluarga/ harta tubang.
4. Menggadaikan harta keluarga/harta tubang tanpa meminta izin dan pertimbangan dari jenang jurai (musyawarah keluarga).
5. Menelantarkan saudara-saudaranya sekandung yang belum berkeluarga yang berada dibawah asuhannya sebagai pengganti orang tua.
6. Membuka rahasia keluarga.
Narasi Filosofi Batik Tunggu Tubang
"Menjaga Amanah, Merawat Keharmonisan, Mewariskan Kehidupan"Motif Tunggu Tubang lahir dari falsafah masyarakat Semende yang menjunjung tinggi nilai amanah, tanggung jawab, dan keberlanjutan keluarga.
Dalam tradisi Semende, Tunggu Tubang bukan sekadar kedudukan anak perempuan tertua yang menerima hak atas rumah dan harta pusaka, tetapi merupakan simbol seseorang yang dipercaya untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Batik ini mengajarkan bahwa kepemilikan bukanlah tentang menguasai, melainkan tentang merawat. Apa yang dimiliki hari ini sejatinya adalah titipan yang harus dijaga demi kesejahteraan generasi berikutnya.
"Bukan tentang siapa yang memiliki, melainkan siapa yang setia menjaga."Batik Tunggu Tubang adalah simbol amanah yang diwariskan lintas generasi. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada hak untuk memiliki, melainkan pada kesanggupan untuk menjaga, merawat, dan mengabdikan diri bagi keberlangsungan keluarga dan masyarakat.
Setiap helai yang dikenakan menjadi pengingat agar pemakainya hidup dengan kebijaksanaan, menjunjung musyawarah, menjaga kehormatan, serta meninggalkan warisan nilai yang akan terus menerangi generasi mendatang.
Ketika seseorang mengenakan Batik Motif Tunggu Tubang, ia tidak hanya memakai selembar kain bermotif indah, tetapi juga membawa doa dan pengingat untuk menjadi pribadi yang:
1. Penjaga Amanah - Mampu dipercaya dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat.
2. Perekat Keharmonisan - Menjadi penengah yang mengutamakan musyawarah dan persatuan.
3. Bijaksana dalam Bertindak - Tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
4. Tangguh dan Bertanggung Jawab - Berani memikul beban demi kebaikan bersama.
5. Pewaris Nilai Kebaikan - Mewariskan bukan hanya harta, tetapi juga akhlak, budaya, dan teladan hidup.
Surat Pencatatan Penciptaan HKI 000459045
